Selasa, 28 Juni 2011

Saat hujan Kemarau hatiku

Sebuah pohon berdiri tegak di antara ribuan ilalang kering
Ilalang itu menari gemulai tersentuh lembut angin hangat
Satu persatu dedaunan jatuh ke dalam pelukan sang ilalang
Hilang terpeluk dan tak akan pernah dilepaskan lagi
Siluet oranye dan warna kering emas dedaunan gugur
Sangat indah namun sangat rapuh

Angin panas nan berdebu mulai berhembus menjamah pohon kekeringan itu
Mendadak kencang dan menyapu hamper seluruh daun daun rapuh emas
Menerbangkannya tak beraturan, menghantamnya dengan sarkas
Ilalang-ilalang menari kasar berebutan mendekap sang daun malang
Mereka mendapatkan satu persatu pastinya…….
Ilalang itu tak akan membiarkan daun-daun rapuh terbang sendiri tak tau arah

Hampir seluruh daun tlah pergi meninggalkan ranting-ranting rapuh
Hingga satu daun rapuh emas masih bertahan dalam pelukan ranting kecil
Angin dengan sarkasnya ingin memisahkan kedua insane itu
Namun mereka masih bertahan, masih berjuang
Hingga sang ranting tak kuasa menahan terpaan angin….
Mereka terpisah…….

Jauh…. Sangat jauh
Daun itu terbawa angin panas nan gersang
Sang ilalang tak sanggup meraihnya…. Angin terlalu membuangnya
Hingga sudut akhir mereka melihat daun rapuh emas terakhir
Kini sang pohon tlah kehilangan seluruh mahkotanya
Tinggalah ranting-ranting kecil rapuh tak berdaya
Bersama ialalang yang terus menari diterpa angin lembut
Mereka kesepian, sangat kesepian

Hari demi hari
Matahari terbit dengan sinar hangatnya
Lalu menyiksanya dengan teriknya matahari siang
Hingga terpisah oleh sinar lembut sang senja
Pemandangan menyedihkan yang pernah ada
Mereka terkikis , mereka meronta kesepian
Mereka sekarat !

Di subuh yang panas
Ranting kesepian itu merasakan getir angin dingin sejuk yang di nantinya
Perlahan rerantingan,ilalang-ilalang malang, dan pohon kesepian itu terbangun
Mereka berlomba lomba menghirup udara dingin sejuk yang menghantam mereka
Lalu gerombolan awan putih abu dating dari sudut pandangan mereka
Satu persatu mereka mulai muncul
Lalu semakin bergelombang semakin padat dan hitam
Pekatnya awan itu! Teriak mereka

Ternyata badai tlah datang
Menyiksa rerantingan, ilalang-ilalang malang, dan pohon kesepian
Dengan ganasnya dengan liarnya….
Tanpa ampun !
Ranting ranting yang tlah sangat rapuh mulai patah dan terbawa badai
Ilalang-ilalang saling berpeluk untuk mempertahankan satu sama lain
Mereka masih meronta ronta
Mereka tersiksa! Sangat tersiksa
Lebih tersiksa dari kehilangan daun rapuh emas terakhir
Mereka masih bertahan hingga badai reda, semalaman mereka bertahan

Dengan kesabaran tulus hingga badai menghilang
Dan fajar mulai membersihkan kekerasan badai
Air air embun pagi itu sejuk
Matahari pun terbit untuk membangunkan mereka dari mimpi buruk semalam
Ialalng-ialalng mulai melepaskan pelukan mereka dan mencoba menangkap setiap sinar mentari
Pohon itu…. Pohon kesepian itu
Dengan rerantingan yang tersisa yang tertahan
Terhangatkan oleh sinar mentari hangat pagi itu
Embun-embun berjatuhan bersama air mata mereka
Mereka sekarang mempunyai malaikat yang akan selalu menghangatkannya
Mereka tidak pernah takut menghadapi badai lagi
Karena mereka sudah berhasil bertahan dalam perang semalam

Kini…….. mereka hanya terdiam tersenyum diterpa angin lembut
Setiap hari hujan datang menyegrkan jiwa-jiwa kesepian mereka
Hingga suatu saat nanti dedaunan hijau segar mulai tumbuh pada ranting-ranting
Menemani rerantingan dan berpegangan erat
Dan menghiasi pohon kesepian itu dengan sejuta kesegaran
Hingga jiwa-jiwa mereka tiada lagi kesepian….
Saat hujan, kemarau hatiku
Aku siap menerjang badai


Saat hujan, Kemarau hatiku

Sindy R. Asta S. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar